Tuesday, October 7, 2014

ORDIK 2014 Perbanas Institute



            Semua berawal ketika saya mendaftarkan diri di Perbanas Institute...

            Nama saya Firsta Samudera Dewantara, biasa dipanggil Firsta. Menurut orang, nama ini susah diucapin jadi yaa  terserah kalian lah mau manggil apa. Saya anak pertama dari dua bersaudara, harapan pertama orang tua, keluarga supaya bisa nantinya menaikkan derajat keluarga. Oke maaf melenceng, back to topic. Semua berawal ketika saya mendaftarkan diri di Perbanas Institute. “Kenapa memilih Perbanas?” “Why choose Perbanas?” Mungkin itu yang ada di pikiran kalian semua kenapa gua memilih Perbanas meskipun gua tau kalian gak peduli sama alesan gua milih Perbanas.

            Oke berawal dari kegagalan gua, bukan kegagalan sih sebenernya. Ketidakberuntungan gua, bukan juga sih. Belum adanya perguruan tinggi negeri yang mau nampung gua? Yak ini lebih pas. Sebenernya jauh jauh hari sebelum yang namanya jalur SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan tes SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri gua udah bikin list kalo misalnya gak keterima di kedua jalur tersebut, perguruan tinggi swasta mana yang bakal gua pilih. And you know what? I didn’t write Perbanas on that list. Pilihan pertama gua jatuh pada UB atau Universitas Bakrie, kedua Universitas Gunadarma, dan yang ketiga Universitas Mercu Buana. Bagus bagus kan? Iya bagus. Cuman gak saya pilih akhirnya. Kenapa? Gua berasal dari keluarga yang keuangannya gak bisa dikatakan royal atau kaya. Gua paham biaya biaya dari pada universitas-universitas yang tadi gua pilih. Yang kira kira “ngepas” sama perekonomian keluarga gua cuman Mercu Buana. Tapi jeleknya, itu universitas jauh banget dari rumah. Mungkin anda bertanya Tanya “Gunadarma kan hampir sama juga biayanya kaya Mercu Buana.” Iya sih cuman kan uang gedungnya gak nahan dan mesti pake tes. Dan gua males pake tes (oke ini curhat).

            Waktu semakin dekat menuju tes SBMPTN. Mulai dari situ gua mencoba untuk mengumpulkan informasi tentang universitas-universitas baik negeri maupun swasta. Sampai akhirnya gua ikut ke yang namanya “Education Fair” yang isinya kebanyakan universitas swasta. Setelah berkeliling keliling akhirnya ada satu universitas yang mampu menarik perhatian gua. Tau itu apa? BUKAN! BUKAN PERBANAS! LP3I! Tapi beneran gua sempet mau daftar di LP3I sebelum akhirnya gua browsing browsing tentang LP3I dan gak jadi masuk sana. Terima kasih ya Allah. Waktu terus berjalan mendekati tes SBMPTN dan gua kembali menemukan “Education Fair” yang diadakan oleh Universitas Negeri Jakarta. Dan hampir sama seperti yang diatas, cuma bedanya ini isinya perguruan tinggi swasta semua. Dan kembali satu satunya yang menarik perhatian adalah...guess what? BUKAN! BUKAN LP3I! PERBANAS! Kenapa Perbanas? Simpel. Karena pada saat education fair itu, cuman Perbanas yang ngasih goodie bag. Dari situlah akhirnya gua memilih Perbanas dengan alasan yang kira-kira bisa diterima. Setuju kan? Okesip.

            Daftar ke Perbanas dan menyelesaikan segala tetek bengek untuk pendaftaran sudah, dan sekarang saatnya Orientasi Pendidikan atau yang mereka sebut dengan ORDIK 2014. Disini gua tegasin kalo gua pengen ikut ORDIK cuma pengen dapet temen doang. Bukan buat diploncoin, disiksa, misalnya disuruh nempelin irisan lemon ke mata (ini gak mungkin terjadi. Sangat tidak mungkin). Mereka (para panitia) mengiming-imingi kalo engga ada yang namanya perploncoan. Ya gua sih percaya percaya aja namanya juga calon mahasiswa baru. Oke hari pertama untuk ORDIK 2014 dimulai. Semua barang bawaan yang di hari sebelumnya harus disiapin mati-matian, ngerjainnya sampe malem-malem dan Alhamdulillah...kurang satu. Tas Karung

            Karena tas karungnya engga ada, jadi gua ganti pake kantong kresek gede. Mulai jalan sekitar jam 4 dengan bawaan yang seabrek-abrek sampe itu motor keliatan kaya orang mudik. Di sepanjang perjalanan menuju Perbanas ada aja cobaannya. Udara dingin adalah masalah yang paling membawa masalah. Masalah kedua, nenteng barang-barang begituan kaga gampang. Oke sampe juga di Halte Karet Kuningan. Sampe disana gua ga langsung masuk ke Perbanas. Gua nungguin temen yang katanya punya karung goni dua biji, yang satunya mau dihibahin ke gua. Udah nunggu sekitar beberapa bulan, becanda. Udah nunggu sekitar beberapa belas menit akhirnya saya dipaksa masuk sama abang abang panitia yang lagi berjaga di kawasan tersebut. Dan saya gak dapet karungnya karena orangnya lupa bawa. Oiya soal dresscode. Dresscode kami para MaBa (Mahasiswa Baru) itu waktu datang pagi itu pake kaos oblong sesuai warna kelompok masing masing, celana batik panjang, sepatu pantofel, kaos kaki sesuai warna kelompok, dan dilengkapi dengan caping plus nametag. Siangnya, ganti kaya orang kantoran. Kemeja putih panjang, celana bahan panjang, dasi Perbanas,  dan ikat pinggang. Perbedaan yang sangat signifikan dari seorang yang keliatan seperti “Buruh Tani” pada saat pagi, dan menjadi seorang pegawai kantor pada saat siang. Sampai sekarang saya masih belom paham kenapa begitu. Anda penasaran? Tanya panitia. Jangan tanya saya. Semua kegiatan hari pertama mulai dari senam pagi, sarapan pagi, Opening Ceremony, jelajah kampus berlangsung dengan selamat sentosa. Dan yang paling ngerusak mood pada hari itu adalah pada saat razia rambut. Oke rambut udah seperti yang disuruh oleh panitia, jadi aman nih. GATAUNYA ENGGA! Gile padahal udah kaya yang disuruh masih kena potong. Nah masalahnya ada yang rambutnya agak panjangan dikit dari gua DAN DIA GAK KENA! INI MAKSUDNYA APA YA KALO BOLEH TAU?! Mbak-mbak yang motong cuman bilang “Maaf ya maaf”. Enak ya cuman bilang begitu seolah olah masalah selesai. Sampai sekarang gua masih inget wajah dari Mbak-Mbak kampret itu.  Semoga Allah mengampuni dosa saudara. 
            Semua kegiatan hari pertama sudah selesai dan saya Alhamdulillah (masih) selamat sentosa walaupun jadwalnya agak ngaret dari apa yang dijadwalkan. Oke masuk persiapan buat hari kedua. Dan masih seperti episode sebelumnya, gua masih keteteran nyiapin bahan bahannya walaupun gak separah yang hari pertama. Hari kedua adalah hari terakhir rangkaian ORDIK 2014 dan para MaBa diwajibkan membawa jaket almamater dan tanda terima kasih kepada panitia dan para pembimbing regu yang berupa surat cinta yang dilengkapi dengan cap bibir dan sebatang coklat. Semua perlengkapan sudah siap kecuali surat cinta dan cap bibir. Waktu menunjukkan pukul 23.00 dan saya akhirnya menemukan inspirasi untuk surat cinta tersebut. Isinya adalah sebagai berikut :
            “Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
                        Terima Kasih
              Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh”

Menurut saya isi surat tersebut sudah pantas dan cukup mewakilkan rasa terima kasih saya kepada para panitia. Terima kasih panitia, sumber air kini so dekat. Dan hari kedua pun dimulai. Kembali dengan berangkat pukul 04.00 dan sukses terdampar di Perbanas sekitar jam 05.30. Kali ini perlengkapan saya sudah lengkap, tas karung pun sudah tergantung di punggung dan jalan dengan penuh percaya diri ke lapangan untuk senam pagi. Acara untuk hari ini full materi, presentasi, dan pertunjukan dari UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Hari ini gaada lagi yang namanya razia rambut. GAADA! Dan Alhamdulillah (lagi) karena sampai akhir acara saya masih selamat sentosa. Dan inilah saatnya untuk “Closing Ceremony” dan yang masih gua pikirkan sampai sekarang. Closing Ceremony itu harus dugem ya? Bukannya kuno atau apa ya. Cuman kan kalo misalnya gua ikutan kan gak kebayang gerahnya kaya apa. Ujung-ujungnya gua ikutan. Sampai di penghujung acara akhirnya saya pulang dengan mengenakan almamater Perbanas Institute. Biar pamer sama orang orang kalo gua udah resmi jadi mahasiswa Perbanas Institute. Selamat untuk kita semua. Dan tidak selamatlah untuk yang tukang cukur razia. Saat pulang saya bersama *uhuk* pacar saya menyempatkan diri untuk ke Seven Eleven untuk sekedar “ngadem” dan beneran aja kita disitu cuman “ngadem” tanpa beli apa apa

Kurang lebih seperti itulah pengalaman saya mengikuti kegiatan ORDIK 2014 semoga bermanfaat untuk kita semua. Akhir kata Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

                                                                                                                        Firsta Uye

1 comment:

Teruntuk Seseorang yang Tidak Ingin Disebut Namanya

... Kadang, apa yang kita pikirkan, tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Apa yang kita rencanakan, tidak sesuai dengan harapan. Apa ya...