ZONA NYAMAN DAN TAHAP PENDEWASAAN
INDONESIA
NEGARA HUKUM…
ASSALAMUALAIKUM!
Malam ini
ku sendiri
Tak ada
yang menemani
Seperti malam-malam
Saya ketiduran
Malem ini saya
gabisa tidur. Seperti biasa penyakit insomnia dan laper…eh laper bahasa medisnya
apaan sih? Ya pokoknya biasa penyakit insomnia dan laper tengah malem melanda
diri ini yang sudah lelah bekerja mencari sebongkah nasi dan sesuap berlian. Di
sela-sela kesibukan saya sebagai seorang manusia paruh baya…terkadang saya
memikirkan zona dimana saya berada. Banyak orang yang bilang “Cobalah keluar
dari zona nyaman”. Zona nyaman adalah zona ketika kita merasa sudah enak dengan
hidup kita, tanpa masalah yang berarti, tanpa tantangan idup, dan punya *pasangan
yang mengerti kita (*opsional). Tapi emang ada ya orang yang berani
meninggalkan zona nyaman? Beberapa orang mungkin berkata “Iya”, dan beberapa
lain mungkin mengatakan “tidak”.
Disini saya
mengatakan bahwa saya belum berada di zona tersebut. Saya belom berada pada
posisi yang enak, dan tidak juga berada di posisi yang tidak enak. Kita sebut
ini zona sepatu converse baru yang di dalam sepatunya ada kerikil sebesar
telapak tangan orang dewasa. Nyaman diliat, tapi kurang terasa nyaman kalo
dirasain *yaaseekkk. Ketika kerja membatasi kuliah, ketika kuliah tidak
berbanding lurus dengan kerja, masalah keuangan pribadi dan keluarga, ketika
pacar menolak untuk diajak nginep di rumah, wah macem macem lah. Disitu kadang
saya meluangkan waktu sejenak di smoking room *walaupun saya bukan perokok*
karena disitulah tempat yang paling nyaman dan paling mudah diakses di kantor,
dan memikirkan segala keruwetan dan mencoba memilah milih masalah yang datang
bertubi-tubi menimpa badan saya yang kecil namun tidak begitu atletis ini.
Namun di
sisi lain, saya begitu bersyukur karena mendapatkan kesempatan bekerja lebih
dahulu karena eh karena di Jakarta yang rusak ini, nyari kerja tuh susah. Nyari
keributan yang gampang disini mah. Banyak orang yang masih susah mendapatkan
pekerjaan, masih luntang-lantung ngelamar kesana sini. Pikir pikir daripada ku
melamar kerja, lebih baik ku melamar kamu~ *apaansih wkwk*. Yaa pokoknya gitu
walaupun dengan gaji yang tidak seberapa ini, saya masih bersyukur dapat
membantu keluarga yang yaaa bisa dikatakan lagi kolaps secara ekonomi selepas
ditinggal oleh Bunda yang tidak sempat meninggalkan resep-resep catering saktinya
itu wkwk ndaaaa balik lagi dong resepnya dicatetin biar bisa dibikin lagi nih
pesenan pesenan kateringnya wkwk.
*INFO :
TERNYATA SATU BUNGKUS INDOMIE TERASA KURANG NAMPOL DI PERUT PADA KEADAAN PERUT
KOSONG
Tapi di
balik segala keruwetan dan rasa bersyukur saya terhadap hidup ini. Inilah yang
disebut masa pendewasaan yang sebenarnya. Kita ditempatkan pada posisi yang
maju kena mundur kena, kanan salah, kiri mane, depan firmino *lah jadi
lipervul*. Dimana kalo kita mengorbankan satu hal pun, maka akan berdampak
besar bagi aspek-aspek yang lain. Tidak melakukan apa-apa juga apa kita mau
tetap berada di keadaan seperti ini? Kemampuan kita beranalisa dipertaruhkan
pada kondisi hidup seperti ini. Banyak banyak berpikir matang, banyak banyak
sharing sama orang yang lebih berpengalaman, dan berdoa kepada Allah adalah
solusi dari segala masalah. Dan seberat apapun masalah, jika tidak dipikirkan
maka tidak akan terasa berat.
Doakan saya
yang imut ini bisa segera keluar dari lingkaran setan ini
Doakan juga
agar kita yang selama ini terpisah oleh jarak dan waktu agar bisa bertemu lagi. Meskipun kita jauh di mata, namun tetap dekat di hati
Buat Tamara
Junyansyah yang lagi PMS: Ini tulisan yang persis diatas ini random yak
*INFO :
KEBANYAKAN MINUM BISA MEMBUAT KEMBUNG DAN ENEG
Ciao
Firsta,
yang sering disebut “Mbak” atau “Ibu” sama abang ojol.